Kala Kebaikan Tambang Terhalang Pemahaman

- Senin, 17 Oktober 2022 | 14:43 WIB
Kala Kebaikan Tambang Terhalang Pemahaman (Hallosultramedia/Dok. istimewa )
Kala Kebaikan Tambang Terhalang Pemahaman (Hallosultramedia/Dok. istimewa )

HALLO SULTRA, Opini - Mineral adalah hal esensial bagi manusia. Manusia butuh supply batubara untuk menghasilkan energi listrik. Butuh pula olahan tembaga, nikel, dan aluminium untuk produksi kebutuhan alat-alat elektronik dan rumah tangga. Oleh karena itu, selama manusia hidup di dunia, kebutuhan akan mineral ini akan terus berlanjut melalui proses penambangan dari dalam bumi. 

Proses inilah yang kerap menimbulkan dinamika persepsi dan respon sosial berkelanjutan di hampir seluruh lapisan masyarakat. 

Yang perlu disadari manusia, operasi pertambangan pastilah mengubah bentang alam karena apa yang diambil berada di bawah permukaan bumi. Namun demikian, perubahan bentang alam bukanlah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. 

Baca Juga: Tampil dengan Wajah Showroom Baru, Kalla Benelli-Keeway Makin Kokoh di Kota Kendari

Mengikuti berbagai aturan dan regulasi pemerintah, serta kebijakan tambang “Good Mining Practice”, proses pertambangan sangat mampu diatur hingga tidak merusak dan mampu dikembalikan ke kondisi bentang alam sebelum dilakukan penambangan. Akan tetapi, bagi sebagian besar orang, istilah “tambang merusak” masih menjadi konsepsi pemahaman yang mengakar. 

Salah satu penyebabnya adalah kekurangtahuan seperti kurangnya pengetahuan tentang tambang, seperti teknik pertambangan dan metalurgi, reklamasi, serta masih banyak lagi ketidaktahuan yang berkaitan dengan dunia tambang

Masalah ini adalah PR besar bagi para praktisi, akademisi, dan pemerhati dunia pertambangan dan metalurgi, khususnya di Indonesia. Mereka seharusnya menjadi garda terdepan dan pertama yang harus berperan sebagai Ambassador atau Duta dalam menjelaskan dan mengedukasi masyarakat awam.

Baca Juga: Hibah Mesin Oksigen Generator KADIN Sultra Mampu Penuhi Kebutuhan Oksigen di RSUD Kota Kendari

Fakta bahwa Indonesia termasyhur dengan julukan “Zamrud Khatulistiwa” harus menjadi pedoman. Secara keseluruhan, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-6 dunia untuk sumber kekayaan alam. Salah satunya adalah nikel, yang menempati urutan pertama dunia. 

Sumber daya inilah yang perlu dimanfaatkan melalui hilirisasi untuk dapat tetap maju secara ekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, hingga mendorong daya saing negara secara global.

Halaman:

Editor: Mita Ayu Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kala Kebaikan Tambang Terhalang Pemahaman

Senin, 17 Oktober 2022 | 14:43 WIB

Terpopuler

X